Hujan Di Balik Kaca
Detik yang Membakar Ada jeda tiga detik saat pintu kaca kedai teh itu berdentang, sebelum aroma hujan campur aspal basah terdorong masuk ke ruangan. Di detik kedua, Rangga mengangkat pandangannya dari buku catatan kerja yang terbuka setengah jalan. Di sanalah ia berdiri. Rambut perempuan itu basah di ujung-ujungnya, terikat sekenanya dengan jepit kayu sederhana. Ia mengenakan mantel abu-abu yang tampak terlalu besar untuk bahunya yang ramping. Pandangan matanya tajam, tidak ramah, dan bergerak cepat menelusuri ruangan seolah mencari celah untuk lekas pergi lagi. Rangga tidak pernah percaya pada istilah cinta pada pandangan pertama. Baginya, itu hanyalah konstruksi dramatis penulis lirik lagu yang kehabisan metafora. Namun di detik ketiga, ketika bola mata cokelat gelap itu beradu tepat dengan matanya—bahkan tanpa senyuman, tanpa sapaan—rongga dada Rangga terasa menciut tiba-tiba. Suatu keheningan yang janggal merayap turun ke ujung jemarinya. Jantungnya berdetak di luar ...